Senin, 30 April 2012

Zamrud Khatulistiwa: The Long Lost Title



Indonesia = Zamrud khatulistiwa

Demikian lah image Indonesia yang sudah terpatri dalam batin kita semua. Semasa masih duduk di bangku SD, berkali-kali pertanyaan mengenai negara bergelar zamrud khatulistiwa dalam pelajaran IPS keluar dalam ulangan harian. Seolah-olah para guru berusaha menjejalkan fakta bahwa Indoesia memang pantas menyandang gelar tersebut.

Namun apakah sesungguhnya Indoesia masih pantas menyandang julukan zamrud khatulistiwa???

Menilik kenyataan berbarapa tahun belakang, Indonesia memang merupakan negara yang kaya akan hutan dan beragam kekayaan alam lainnya sehingga tidak mengherankan bila banyak orang yang mengasosiasikan Indonesia sebagai zamrud khatulistiwa. Namun dalam tahun-tahun belakangan ini, Indonesia serasa ‘kehilangan  niat’ mempertahankan title-nya. Kasus Illegal logging semakin meruak, pembakaran hutan semakin marak, tak ayal bila kawasan hutan-hutan di Indonesia menurun drastis. Berdasarkan pernyataan Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Longgena Ginting, kerusakan hutan di Indonesia sudah mencapai 3,8 juta hektar pertahun. Hal ini berarti dalam semenit, jumlah hutan yang rusak seluas 7,2 hektar.

Kondisi lahan hutan yang gundul semakin diperparah dengan fakta bahwa tingkat populasi satwa-satwa liar di Indonesia mulai berkurang. Habitat alami mereka berada di hutan alam, jika hutan-hutan tersebut rusak maka keseimbangan ekosistem pun terganggu sehingga menyebabkan banyak satwa yang mati. Harimau, orangutan, badak bercula satu, komodo dan jenis fauna lainnya, satu persatu masuk sebagai daftar satwa langka. Lalu akankah kita berdiam diri begitu saja???

Selama ini pemerintah berusaha mengurangi kerusakan lingkungan dengan membangun cagar alam, suaka alam ataupun memperketat regulasi. Namun kenyataannya, usaha tersebut tidak dibarengi dengan peningkatan kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan. Akibatnya masih banyak kasus pengrusakan hutan yang belum terselesaikan. Untuk itulah perlu dilakukan tindakan secepatnya, tindakan yang bisa meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melestarikan lingkungan sekitar. Kita bisa mengadopsi langkah yang telah dilakukan warga USA. Penulis-penulis di Amerika mulai menggunakan buku-buku cerita untuk membuat masyarakat ‘melek’akan lingkungan. Seperti yang pernah dilansir oleh VOA dalam artikelnya yang berjudul Penulis AS Gunakan Karyanya untuk Dekatkan Anak-Anak pada Lingkungan, Melalui karyanya, Susan Stockdale salah satu penulis buku anak-anak di AS, berhasil menyuguhkan hal-hal  menarik dari alam kepada pembaca. Menurutnya, dengan buku cerita ia serasa menjadi aktivis lingkungan yang mendorong anak-anak untuk memusatkan perhatian pada keindahan alam. Lebih jauh lagi, Kathy Isaacs, kepala Asosiasi Perpustakaan Amerika memaparkan bahwa dengan teks buku yang bersajak dan bergambar, Stockdale mampu menggambarkan lingkungan secara akurat dan sesuai konteks, sehingga pembaca seolah-olah mampu memvisualisasikan teks buku tersebut.

Langkah seperti diatas patut dipraktikkan di Indonesia. Lewat buku cerita, penulis bisa memperkenalkan keragaman alam yang ada di dunia ini. Dengan kesadaran akan lingkungan alam, diharapkan akan timbul kesadaran untuk menjaganya. Namun upaya pelestarian alam tidak hanya melalui cara itu saja, masih banyak cara yang lain. Yang terpenting, kita sebagai bangsa Indonesia harus senantiasa bersatu padu dalam usaha melestarikan alam.

image taken from here

1 komentar: