Minggu, 03 Juni 2012

KTSP VS Kurikulum Berbasis Esai Murid



Perkembangan globalisasi yang semakin cepat dewasa ini, membuat banyak  negara  mengalami perubahan. Sistem sosial, budaya, maupun politik senantiasa bekembang  mengikuti perubahan zaman. Kedepannya, batas antar negera pun seakan hilang, sehingga arus globalisasi kian tak terbendung. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi tiap negara agar tak tergilas arus modernisasi. Untuk mengahadapi tantangan tersebut, setiap negara dapat menggunakan senjata masing-masing, salah satunya adalah dengan pendidikan. Pendidikan hendaknya dijadikan punggawa utama dalam mempertahankan identitas bangsa serta memajukan kesejahteraan bangsa. Dengan pendidikan, kualitas SDM diharapkan akan meningkat yang pada akhirnya akan membawa bangsa pada kejayaannya.

Penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas  membutuhkan sebuah kerangka model yang juga bekualitas. Kerangka model tersebut terwujud dalam bentuk kurikulum. Di dalamnya terdapat kerangka dasar acuan penyelenggaraan pendidikan. Kurikulum menjadi pemandu yang akan mengarahkan komponen pendidikan ke tujuan yang telah ditetapkan. Perumusan kurikulum yang baik akan mengakomodasi bentuk-bentuk perkembangan zaman dengan tetap mempertahankan karakteristik pendidikan masing-masing. Dengan demikian, pendidikan akan mampu menjaga eksistensinya tanpa menghilangkan kekuatannya untuk menghasilkan generasi penerus yang bermutu.

Di Amerika Serikat saat ini, bekembang sebuah kurikulum yang berbasis esai murid. Kurikulum ini dikembangkan oleh sebuah organisasi nirlaba bernama One World Education. Dalam aritikel VOA yang berjudul Sekolah di AS Kembangkan Kurikulum Berbasis Esai Murid, dijelaskan lebih lanjut bahwa para siswa diajak untuk menulis esai yang nantinya akan dipilih oleh organisasi sebagai One World Reflection. Melalui esai  yang terpilih tersebut, para professional akan mengembangkannya menjadi suatu unit kurikulum. One World Education akan menerbitkan unit pembelajaran setiap bulannya dari Agustus hingga Mei.
Lebih lanjut, Eric Goldstein, direktur eksekutif One World Education menyatakan bahwa selama empat tahun terakhir, One World Education telah menjalin kerjasama dengan 1500 siswa penulis dan hampir 325 guru yang mengakses kurikulum berbasai esai ini.

Pembelajaran berbasis esai murid merupakan ajang aktualisasi bagi siswa-siswa Amerika. Mereka berpartisipasi dalam pengembangan materi pembelajaran. Laila Kunaish pelajar dari Washington, menjelaskan dirinya pernah menulis tentang  judgment media Amerika terhadap muslim yang sering kali tidak adil. Kegiatan pembelajaran pun akan dikembangkan dengan cara para siswa diminta mengumpulkan berita-berita media dan mendiskusikananya di kelas.

Pengembangan kurikulum  berbasis esai murid ini, akan mendorong semangat siswa dalam belajar, karena mereka mempelajari hal-hal yang mereka ingin pelajari. Kemudian wawasan pelajar juga akan bertambah seiring bervariasinya topik-topik yang ditulis dalam esai murid. Mereka menuliskan topik-topik yang beragam, mulai dari bahasa, agama, perlindungan hutan tropis bahkan hingga penelusuran budaya Arab.  Selain itu, esai-esai yang telah ditulis tersebut akan menjadi panduan belajar bagi ribuan siswa lain.


Jika Amerika Serikat mempunyai kurikulm berbasis esai murid, maka Indonesia mempunyai kurikulum tingkat satuan pendidikan atau lebih sering disebut dengan KTSP. Selama ini guru-guru di Indonesia hanya menerima bentuk jadi kurikulum dari pemerintah pusat. Dengan KTSP, para guru dituntut kreatifitasannya untuk mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kondisi masing-masing daerah, tanpa melupakan rambu-rambu yang telah ditetapkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Misalnya di Pekalongan, para guru mengembangkan pelajaran muatan lokal yang terwujud dalam mata pelajaran membatik. Pelajaran ini dikembangkan atas dasar citra kota Pekalongan sebagai Kota Batik.

KTSP dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut: (1) Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan Iingkungannya (2) Beragam dan terpadu (3) Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (4) Relevan dengan kebutuhan kehidupan (5) Menyeluruh dan berkesinambungan (6) Belajar sepanjang hayat (7) Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah .

Seperti halnya dengan kurikulum berbasis esai murid, KTSP juga menjadi sarana aktualisasi para guru. Penetapan KTSP merupakan langkah pemerintah dalam memberikan wewenang (otonomi) kepada lembaga pendidikan dan guru untuk berpartisipasi aktif dalam pengembangan kurikulum. Dengan demikian pengembangan KTSP menuntut keprofesionalan guru. Pengembangan kurikulum membutuhkan wawasan yang luas dari guru, sehingga penerapan KTSP harus mempertimbangkan kesiapan guru dan lembaga pendidik. Jangan sampai, KTSP hanya menjadi kurikulum yang berubah namanya saja namun output nya tetap sama. Jika berhasil, maka KTSP akan mampu menjadi pemandu pendidikan Indonesia yang tetap menjunjung karakteristik jati diri bangsa.




Image from here & here

Tidak ada komentar:

Posting Komentar